Building Capacity at Work, at Life: A Reminder from Surah Al-Asr


When we talk about my favourite Surah, I always mention Al-Asr as the shortest and the longest Surah. And I'm always excited to share this Surah.


In Surah Al-Asr, Allah reminds us:

“By time, indeed mankind is in loss, except those who believe, do good deeds, encourage truth, and encourage patience.” (103:1–3)


This short surah teaches us how to avoid wasting our potential. In the workplace, it reminds us that success is not just about skills, but about purpose, action, integrity, and resilience.


Faith → Work with sincerity and align with your values.

Good deeds → Turn your knowledge into meaningful contributions.

Truth → Uphold honesty and build trust with colleagues.

Patience → Stay consistent and resilient through challenges.


Time is one of our most valuable resources. Let’s not let it slip away. By applying the wisdom of Surah Al-Asr, we can build our capacity at work while also securing success in this life and the hereafter.


✨ Use your time wisely, act with purpose, and keep growing. lifelong journey, what can be longer?

Sujud Sahwi

Hola, Assalamualaikum teman-teman.
kali ini gw akan membahas hal umum yang sering terjadi di kehidupan kita tapi jarang kita pahami. 
kadang kita shalat, eh tiba-tiba nge-blank "eh ini rokaat keberapa ya?". pasti pernah kan?
nah kalau ada kejadian-kejadian yang bikin kita ragu, lakuin sujud sahwi deh~
sujud ini tu dilakuin diantara tahiyat akhir dan salam. soo.... kalau kita ragu, setelah tahiyat akhir sujud sahwi dulu, abis itu baru deh salam

------------------
Sahih al-Bukhori:1149

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ:
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مِنْ اثْنَتَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ لَمْ يَجْلِسْ بَيْنَهُمَا، فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ.

Dari Abdullah ibn Buhainah ra, bahwa dia berkata:

Sesungguhnya Rasulullah saw berdiri dari dua raka'at shalat zuhur dan tidak duduk diantaranya. Setelah beliau menyelesaikan shalatnya, beliau sujud dua kali lalu mengucapkan salam setelah itu.

Pesan :
  1. Sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan oleh seseorang yang sedang shalat jika ia melupakan suatu pekerjaan shalat.
  2. Jika yang terlupa merupakan suatu rukun, maka orang tersebut harus mengerjakan rukun itu baru kemudian sujud sahwi, namun jika yang terlupa merupakan suatu sunnah/ab'aadh, seperti dalam hadis ini, yaitu Rasulullah terlupa mengerjakan tahiyyat awwal, maka cukup melakukan sujud sahwi.
  3. Hukum sujud sahwi adalah sunnah.
  4. Sujud sahwi dilakukan sebelum salam.



lalu bacaannya apa??
sejauh ini sih belum ketemu ya apa bacaannya, tp ulama-ulama ada yg berpendapat agar membaca

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو
Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa)

namun ada jg yang berpendarat bahwa bacaan sujud sahwi sama dengan sujud biasa

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi]

atau bisa membaca....................................

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى
Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku]

nah yang jelas kalo kita ragu, tetap lanjutkan seyakinnya kita, lalu lakukan sujud sahwi. sujudnya 2x lho ya..
semoga aja bisa bermanfaat buat temen-temen semua.
stay positive, stay syar'i.
salam~

adab bertamu

Salam ya saudaraku..

kali ini gw akan bahas tentang adab bertamu. iya, adab yang kadang kita lupain dalam kehidupan sehari-hari. apalagi untuk orang yang udah kita kenal deket. biasanya kan kita main selonong aja tuh.. apalagi dalam islam, semuanya ada aturannya termasuk bertamu. lets cekidot

pertama, usahakan buat janji kalo pengen bertamu. apalagi bertamu ke rumah calon mertua. haha.. dengan kita membuat janji terlebih dahulu, jd kita bakal lebih enak ketemunya. khususnya orang yg kita ingin temui adalah orang yg sibuk.

kedua, salam. tuntunannya sih kita salam 3 keleus maksimal, kalo ga dijawab ya silahkan pergi. tp kan kalo rumahnya gor bola ya beda lah.. tp kita kudu paham kenapa adabnya cukup 3x salam aja. ga semua orang kondisinya lg bagus untuk terima tamu. siapa tau lg kegiatan "pribadi", kan repot~ hahaha.. intinya itu kayak mau tau bahwa si tuan rumah lg available ga nih buat nerima tamu. yah gitu deh..

ketiga, minta ijin. mau masuk kek, duduk kek, ngelamar kek, nagih utang kek, berantem kek....eh jangan. pokoknya ijin tuh perlu. bisa jadi kalo rumah si tuan rumah itu lg berantakan dan dia bisa malu kalo ada orang yang melihatnya. kalo kamar kosan gw sih rapi berantakan bodo amat. toh pada betah.. haha

keempat, jangan ngintip atau ngeliat ke dalem tanpa ijin. siapa tau waktu ngintip ada yang ngintipin balik. hiiiy!! (asli merinding sendiri, nulisnya lg tengah malem di kamar sendirian gelap2). udah ah segitu aja.

kelima, pastiin waktu berkunjungnya layak. jgn ampe kita diusir gegara tuan rumahnya udah males. apalagi kalo udah dikasih kode-kode buat cabut, mending angkat kaki deh. makanya kalo bertamu seperlunya aja. tp kalo emang udah biasa dan tuan rumah ga masalah ya gas terus aja. hati-hati dengan ucapan "anggap rumah sendiri" gaes.. itu jebakan!

thats it. cukup sederhana sih adabnya, tapi kadang kita lupa dan seenaknya aja kalo bertamu.
stay positive, stay syar'i :D
Salam~

Abang grab yg lebih tau depok dari pada kita

Suatu hari gw mau balik ke rumah, meren grab dari stasiun pocin.
Ini cerita tanpa rekayasa.
G: gue
A: abang grab

Ckkiiiitt!!!! (Hampir nabrak)

G: ya ampun, udah dikasih jembatan penyebrangan tetep aja asal nyebrang.
A: iya bang, payah bener orang2 depok. Kan repot pengendara.. Itu udah susah2 dibikinin jembatan penyebrangan biar aman malah ga dipake

G: haha yah maklum manusia
A: semuanya padahal pengen lebih baik tp ga mau jd lebih baik

G: bukannya walikota udah ganti bang?
A: iya, baru kemaren pelantikan
G: *wew update jg nih abang grab*
A: ga tau nih yg sekarang, bakal lebih baik apa ngga. Sama2 dari pekaes.
G: haha

A: jgn salah bang, diem2 depok jd kota basisnya pekaes. Makanya kalo mau ngelawan di depok mah mesti duitnya kenceng.
G: ohya? Tp kerjanya gmn?
A: yah kalo bandingannya yg sebelumnya, pak BeKa, lebih bagus bang. tp kalo bandingannya ridwan kamil masih kalah
G: *gokil paham jg nih orang*

G: jd intinya abang seneng apa kagak?
A: iya seneng bang, semoga makin bagus aja dah.
G: tp banyak yg ga puas tu bang??
A: ya itu sih mereka ga merhatiin pemerintah aja. Padahal mereka tau apa selain dari tipi..? 
G: aamiin dah semoga makin bagus bang
*obrolan diakhiri karna udah sampe rumah*

Kayak obrolan di warkop yak 😅
Hikmahnya apa ya..? Tau dah, cuma ngetik. Haha

Belajar dari jam dinding

Dilihat orang atau tidak, ia tetap berdenting.
Dihargai atau tidak, ia tetap berputar.
Walau tak seorangpun mengucapkan terima kasih, ia tetap bekerja.
Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.

Teruslah berbuat baik pada sesama meskipun perbuatan baik kita tidak dinilai dan diperhatikan orang lain.
Ibarat jam dinding yg terus bekerja yg tak dilihat namun senantiasa memberi manfaat bagi orang di sekitarnya.

(Unknown)

Muslim nowadays

Muslim's are weak..
No unity for each other.
We just love our self..
We love happiness in donya..
We dont care about other Muslims problem..
We just care how we live better and happy life.
We love the world more then Akhira....
and we call ourself... muslim..
Million of muslim children dying every year, by massive rocket and bullets...
and all Muslims in this world are only Watching...
It wasn't enough..

Nowadays, both Muslims country are 
killing Each other..
And some Muslims are Killing innocent 
people...
Now..we are muslim..
We are dying priceless..

Lets moohasabah.
(Hayla tiboron)

What Kind of Thinker Are You?


by Mark Bonchek and Elisa Steele

We all aspire to work better together. Technology is making some of that effort easier. But digital tools are only part of the answer. It’s people who ultimately make the difference.

The problem is that technologies for collaboration are improving faster than people’s ability to learn to use them. What can be done to close that gap? A year ago we set out to find the answer, drawing on the collective experience of dozens of collaborative communities and learning organizations. Here’s what we found.

In most organizations, there’s a standard set of tools we use to form, lead, and manage teams. These include personality tests, skill profiles, and team roles. When you put a team together, you consider people’s personalities: are they an introvert or extrovert, risk-taker or risk-avoider, analytical or intuitive? You consider their skills: What is their specific area of talent, experience, or expertise? And you consider their potential role on the team: What will their contribution be to the team’s purpose?

We normally think of roles as being about what people do, such as team leader, project manager, or researcher. When you need a decision, you go to the team leader. When you want a status update, you go to the project manager. When you need something investigated, you go to the researcher.

But in today’s marketplace, the smartest companies aren’t those that necessarily out-produce the competition. Instead, it’s the organizations that outthink them. And while there are plenty of tools that help us quickly understand what our teammates do, it’s harder to tell how they think. Research shows that it is ultimately how teams think together that most determines their performance.

We therefore propose that just as team members today have assigned doing roles, there should also be thinking roles. By knowing how other members of your team and organization think — and by others knowing how you think — everyone can be more energized, more engaged, more creative, and more productive.

One aspect of collaboration is about getting people aligned in what they do. But there is another dimension is about getting people aligned in how they think.

So how should you evaluate about how you and your team think? There are frameworks for how you personally think or how youinfluence others one-on-one. But we didn’t find any simple assessments that would help people connect, communicate, and collaborate based on how they think. So after a lot of co-creation and trial-and-error, we developed a three-step method that delivers practical and meaningful results.

Focus. The first step is to identify the focus of your thinking in a particular context or setting. Do you tend to pay the most attention to ideas, process, action, or relationships? For example, in the morning as you contemplate the day ahead, do you tend to think about the problems you need to solve, the plans you need to make, the actions you need to take, or the people you need to see?

This isn’t about picking one to the exclusion of the other. It’s about where your focus naturally lands. Just like when you consider watching a movie or reading a book, do you tend to go for action, romance, drama, or mystery?

Orientation. The next step is to notice whether your orientation in that setting swings toward the micro or the macro — the big picture or the details. A good way to identify this orientation is by thinking about what tends to bother you in meetings. Are you more likely to complain about getting dragged into the weeds or about things being too general and not specific enough?

These dimensions are complementary to personality, skills, and traditional roles. Some project managers are more inclined to focus on process and others on people. And some extraverts are big picture and others more detail oriented.

The third step is to combine these two dimensions and see the thinking style at work in whatever context or setting you chose.

For example, on the big picture or macro orientation:

Explorer thinking is about generating creative ideas.Planner thinking is about designing effective systems.Energizer thinking is about mobilizing people into action.Connector thinking is about building and strengthening relationships.

Across the micro or detail orientation:

Expert thinking is about achieving objectivity and insight.Optimizer thinking is about improving productivity and efficiency.Producer thinking is about achieving completion and momentum.Coach thinking is about cultivating people and potential.

When you know your thinking style, you know what naturally energizes you, why certain types of problems are challenging or boring, and what you can do to improve in areas that are important to reaching your goals.

Once you know your style, it helps to share it with others, and have others share theirs with you. In this way, your thinking style becomes a useful tool — a kind of socialcurrency — for the team. Imagine you put together a team to work on a new initiative. Wouldn’t you like to know who is energized by big-picture strategy discussions and who finds them frustrating? Who likes to work on the details of the execution? And who is energized by managing the team dynamics?

As a real-world demonstration, one company had their entire leadership team identify their thinking styles as managers and leaders. Looking at a heat map of the results, they realized they had a lot of big-picture Explorer thinking and a lot of Action thinking (Energizer and Producer), but very little Process thinking (Planner and Optimizer). The team was strong at coming up with big ideas and mobilizing everyone into action, but weak at working out the details and making things run efficiently.

With this new information in hand, they started giving more voice to those whose detailed thinking often seemed like a buzz kill to the big picture explorers and energizers. They also shifted the culture and recruiting strategies to create a more balanced and diverse thinking style.

At an individual level, one specific leader had always operated in idea-rich environments like consulting and marketing. But by identifying her thinking style, she realized that she was more energized by relationships than ideas. Her orientation was more towards Connector thinking than Explorer thinking. She used ideas to nurture relationships, rather than relationships to nurture ideas. This insight led her to shift the focus of her work toward account management and business development, leading to much higher levels of energy and engagement.

The landscape of business is changing rapidly, and we have to find new and better ways to connect and communicate. We all aspire to work better together; the challenge is actually making it happen. Understanding collaboration through the lens of thinking rather than doing is a practical and powerful step forward.

Mark Bonchek is the Founder and Chief Epiphany Officer of SHIFT Thinking, helping leaders and organizations update their thinking for a digital age.

Elisa Steele is CEO and president of Jive, a provider of modern communication and collaboration solutions for business. 

#www.kebonilmu.com

Muslim kini

Yg membedakan muslim sekarang itu adalah tingkat toleransi terhadap proses taqwa, bukan toleransi halal-haram.

Dan 1 lg, tingkat kehati-hatian tiap orang itu berbeda.
Ada yg menghindari syubhat sebagai solusi, tp ada yg memecahkannya dengan berhati-hati.
Wallahualam

Tiada Gading yang Tak Retak

Demi masa.
kekecewaan itu hanyalah rasa..
Bahkan manusia terbaik pun kadang mengecewakan kita.

If you dont keep your words, you're doing it wrong fella....

Ya, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. 


Tentang Aku, Kamu, dan Semua Orang.

Semua orang sampai pada puncaknya masing2.

Entah seberapa tinggi dan berapa waktu kesempatan..
Entah dalam kesadaran mendaki atau tidak, atau bahkan sadar sudah melewati atau tidak.

Walau kadang kita berhenti atau terperosok, semoga kita akan terus mendaki tanpa lelah.
Dalam keinginan dan dalam kesadaran..

Hujan

Menurutku, hujan itu dengan karakter yg beda tapi punya sifat yg sama dengan uang.
Ia tak berwarna namun merefleksikan segala warna.

Aku? Lebih suka yg rintik. Menenangkan dan menyejukkan.

Macam-macam dakwah

1. Dakwah bil Lisan
Yang mengungkapkan dengan kata-kata dari orang ke orang

2. Dakwah bil al-Hal
Dengan menjadi contoh baik bagi orang sekitar seperti memberi sedekah, cepat atau lambat orang di sekitar kita akan mengikuti tingkah baik kita

3. Dakwah bit Tadwin
Dakwah dengan media tulisan baik cetak maupun elektronik

4. Dakwah Fardiah
Ini dakwah yang dilakukan spontanitas, contohnya menasehati teman yang lalai akan sesuatu

5. Dakwah Ammah
Ini dakwah yang dalam skala kelompok, seperti ceramah dan pidato yang nantinya penyampaian kita akan mempengaruhi orang untuk bertindak baik

6. Dakwah bil Hikmah
Ini dakwah yang paling halus, mempengaruhi orang dengan mendekatinya sehingga penerima dakwah mengikuti kebaikan-kebaikan tanpa ada paksaan, contohnya menceritakan bagaimana kiamat terjadi, siapa yang celaka dan selamat, setelah itu yang penerima dakwah akan menyimpulkan sendiri (bukan karena kita yang menyuruh) langkah apa sebaiknya untuk kedepannya

Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk berdakwah, dan ingat sabda Rasulullah SAW,
"Sampaikanlah dariku, walau hanya satu ayat"
(HR. Bukhari)
Ilmu yang baru saja kita dapatkan langsung sampaikan, jangan menunda-nunda, disitulah keberkahan dari ilmu tersebut

Sumber: status Sunarti Haminu

Pengakuan terhadap Bangsa Arab

Bagaimana bisa? Mereka, orang Arab, orang Baduwi pedalaman, orang gurun yg tak diperhitungkan, tiba-tiba menjelma menjadi sekelompok pasukan yg menaklukan bangsa kami; Suriah. Juga bangsa-bangsa Arya yg memiliki sejarah dan peradaban yg jauh lebih luhur; Romawi dan Sassania Persia? Bagaimana bisa? Orang-orang Arab, pasukan tanpa senjata, berkuda tanpa baju zirah, tanpa tutup kepala dari baja, berhasil memenangkan pertempuran dan manpu meruntuhkan pasukan polihan kekaisaran Romawi dan Persia.

Sungguh dalam waktu amat singkat, seluruh dunia diambil alih oleh orang-orang Arab. Mereka menguasai laut dan bandar-bandar utama. Mereka menguasai kota-kota legenda yg dikelilingi benteng-benteng menjulang dan kokoh. Mereka menguasai Timur dan Barat. Dari Siprus hingga Cappadoica. Dari Yaman hingga Kaukasia. Semua Bangsa; Armenia, Suriah, Persia, Romawi, Yunani, dan Mesir.

(Dokumen pada lembaran daun lontar tulisan pendeta John bar Penkaye; Suriah, 687 Masehi)

Batu bata

Dalam hiatus kumerenung durja..
Apa bisa kuperbuat, onggokkan daging bernyawa ini tak punya daya.
Hingga kuputuskan meminang kalian semua..
Dan kitalah laskar batu bata.
Yg mungkin siap memberikan dunia

Hal besar mulai berkerumun
Mimpi-mimpi indah terus kita bangun
Mungkin harapan itu tak sirna pun
Seberkas silau kian menyeruak dan berhimpun..
Hingga suatu saat asa kita kian membumbung.
Namun..

Ada satu waktu..
Kita semua hilang itu..
Satu-satu..
Itu..
batu bata yg meredup sayu..
Hingga sedih ku bertabur sendu..
Ada apa dengan kamu..?
Bisakah kita berhenti dari layu..?

Bata itu kembali memerah.
Menunjukkan ia masih bisa merekah..
Senyum itu paling indah.
Dan berjelagaku pun henti sudah
Senyum yg bagai kembali tuhan memberikan titah..
Memang....senyum itu paling indah...

Hingga waktu kian tak terasa.
Bata pun kehabisan kata..
Ghirah yg terus semakin menyala
Tak pernah ia kehabisan bara api nya
Menyenangkan...ya..?

Akhir pun selalu menjadi niscaya
Kala waktu menjadi teman terpercaya
Tenang saja hey batu bata,
Bukankah kita bersamaNya?
Pastilah dan semogalah kita berhimpun di jannahNya

Semoga tak henti karya kita bersemat
Dalam rabithah kita selalu terikat
Dan dalam "bangunan" kita selalu bersama dan erat.
Terimakasih hey laskar batu bata yg kuat,
kalian lah yg terhebat....

The biggest CILOK in the world

Just if you know what is cilok, the "aci dicolok". Hahaha..
Its a snack made from tapioca which be boiled and steamed.
But this one is more to a meatball. Especially a tennis meatball..
Just take a look at its size, usually cilok is just as big as marbles~~

Let me introduce you to Sukabumi Cilok!!
I find the vendor at Sukabumi Market.
Haha so big, even i dunno how to eat them. damn.
Just find them and eat them :')

Something you must missed (for 90's)

Hai..
If you are a 90's kiddos, you must known this one.
"Paket 200 sms"
So it gave you 200 sms free for idr5k (nominal), eventually sold by idr7k.
Then you have 7 days to run it out.
It was a challenge to make the count to zero because in average you have to send 30 message in a day.
For a kid that year (around 11-15 yo), that was a little too much.
But i dont think so for these days kids. Haha
This is so nostalgic, especially i was the one who sell these things. Hahaha
Yeah i was an account seller, yet i'm atill doing it till today xD

Toy store??

I dont know.. kiddos must be very excited being here. But why either i am..? Haha.. being here is a moodbooster. Always :-)


A great supper

Last night.. i finally found this stuff!
You know what? Indomi Telor Kornet Keju or internet keju.
Haha :heavybreathing

Kenapa harus tarbiyah dzatiyah?

Tarbiyah Dzatiyah adalah cara tarbiyah seorang muslim/muslimah kepada dirinya sendiri dalam rangka membentuk pribadi tarbiyah yang islami. Selain tarbiyah dzatiyah terdapat juga tarbiyah ummah yang bertujuan kepada orang lain. Dengan tarbiyah dzatiyah, kita dapat melengkapi kebutuhan tarbiyah kita selain dari tarbiyah ammah. Dengan demikian, secara singkat tarbiyah dzatiyah bisa diartikan sebagai tarbiyah mandiri.

Banyak alasan yang mendasari mengapa tarbiyah dzatiyah sangatlah penting untuk dilakukan.

Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain. Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindunginya dari siksa Allah ta'ala dan neraka-Nya. Tidak diragukan lagi, menjaga diri sendiri mesti lebih diutamakan daripada menjaga orang lain. Ini sama persis dengan apa yang dikerjakan seseorang jika kebakaran terjadi di rumahnya –semoga itu tidak terjadi-, atau di rumah orang lain, maka yang pertama kali ia pikirkan ialah menyelamatkan rumahnya dulu.

Tarbiyah dzatiyah merupakan sarana untuk men-tarbiyah diri kita sendiri, karena kita yang paling tahu kebutuhan kita sendiri. Siapa yang men-tarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak men-tarbiyah diri sendiri, siapa yang men-tarbiyahnya? Atau jika tidak ada pihak lain yang mempengaruhinya? Sebab, kedua orang tuanya secara khusus, atau manusia secara umum berkeyakinan ia telah dewasa, lebih tahu apa yang lebih mendatangkan maslahat bagi dirinya, atau mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, hingga tidak punya waktu untuk mengurusnya.Walhasil, jika ia tidak men-tarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan. Hari dan umur terus bergulir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dirinya dan ketidakberesannya. Akibatnya, ia rugi saat kematian menjemput.

Hisab pada hari kiamat oleh Allah ta'ala kepada hamba-hamba-Nya bersifat individual, bukan bersifat kolektif. Artinya, setiap orang kelak dimintai pertanggungjawaban tentang diri atau buruknya, kendati ia mengklaim orang lain menjadi penyebab kesesatan dan penyimpangannya. Kendati ada klaim seperti itu, mereka wajib dihisab bersama dirinya.

Dengan tarbiyah dzatiyah, perubahan akan lebih mudah dihasilkan. Setiap orang pasti memiliki aib, kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat, baik maksiat kecil atau dosa. Jika masalahnya seperti itu, ia perlu memperbaiki seluruh susu negatif dirinya sejak awal, sebelum sisi negatif tersebut membengkak. Dan, seseorang tidak dapat meluruskan kesalahan-kesalahannya atau memperbaiki aib-aibnya dengan sempurna dan permanen jika ia tidak melakukan upaya perbaikan dengan tarbiyah dzatiyah.

Tarbiyah dzatiyah adalah sarana yang baik untuk membuat kita menjadi  tsabat dan istiqamah. Setelah bimbingan Allah ta'ala, tarbiyah dzatiyah adalah sarana pertama yang membuat muslim mampu tsabat (tegar) di atas jalan iman danpetunjuk, hingga akhir kehidupannya. Tarbiyah dzatiyah juga garis pertahanan terdepan dalam melawan beragam fitnah dan bujuk rayu, yang menyerang kaum muslimin dewasa ini dan membujuknya dengan deras untuk menyimpang, gugur (dari jalan dakwah), loyo, malas, merasa takut akan masa depan, dan putus asa dengan realitas masa kini.

Tarbiyah dzatiyah merupakan sarana dakwah yang paling kuat. Esensinya, setiap muslim dan muslimah adalah dai ke jalan Allah ta'ala. Ia memperbaiki kondisi yang ada, mengajar, memberi taujih, dan men-tarbiyah. Agar ia diterima manusia, baik sanak kerabatnya atau orang yang jauh darinya, dan punya kekuatan melakukan perbaikan dan perubahan di kehidupan mereka, ia perlu bekal kuat. Dan, cara efektif untuk mendakwahi mereka dan mendapatkan respon mereka ialah ia menjadi qudwah yang baik dan teladan yang istimewa dalam aspek iman, ilmu, dan akhlak. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar.

Tarbiyah dzatiyah adalah cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada. Adakah diantara kaum muslimin yang tidak merasa prihatin dengan kondisi yang ada pada umat Islam, di berbagai aspek di kehidupan mereka, baik aspek keagamaan, ekonomi, politik, pers, sosial, atau aspek-aspek lainnya? Jawabnya, tentu tidak ada.

Tapi bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialami umat kita sekarang? Apa langkah efektif untuk melakukan perbaikan? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan tarbiyah dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syamil, dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, biidznillah. Lalu, dengan sendirinya, masyarakat menjadi baik. Begitulah, pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit.

Alasan mengapa tarbiyah dzatiyah lainnya adalah mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan selalu ada pada kaum muslimin di setiap waktu, kondisi, dan tempat. Ini berbeda dengan tarbiyah ammah yang punya waktu-waktu tertentu, atau tempat-tempat khusus.

[Source: Tarbiyah Dzatiyah karya Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan] 

Proses ngurus kartu absen (flazz.red) feb undip

Beberapa saat lalu gw ngalamin kejadian kurang mengenakkan. Tau apa? Kehilangan dompet!
Duh..
Musti ngurus macem2 deh.
Langsung aja, gw ngurus hal yg paling penting, kartu absen kuliah.....
Gada ginian kaga bisa absen broo!!
Prosesnya adalah:

1. Surat kehilangan dari kepolisian. Wajib nihyee......

2. Langung aja ke dekanat bawa duit 35 rb. Ke bagian pembayaran, tulis nama, setor duit, dapet kwitansi. Terus ke bagian kemahasiswaan. Ngasih kwitansi n dikasih surat pengantar absen.

3. Tunggu dan tiriskan. Eh maksudnya tunggu aja, maksimal seminggu bisa diambil. Absen sehari2 bisa pake surat pengantar dari dekanat td.

Gampang kan?
Semoga bisa jd pencerah di jagat permahasiswaan :')