Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan

Sistem Extrasolar Planet Terkaya Ditemukan

Era penemuan sistem keplanetan di luar Tata Surya memang sudah dimulai belasan tahun yang lalu atau tepatnya di tahun 1995, saat Michel Mayor dan timnya menemukan planet Pegasi 51 b di bintang Peg 51. Sejak saat itu sudah ditemukan 410 sistem keplanetan dengan 485 planet. Di antaranya terdapat 48 sistem multi planet, atau sistem keplanetan yang memiliki planet lebih dari 1 buah planet.

Dari ke-48 sistem multi planet tersebut, ada 15 sistem yang setidaknya memiliki 3 planet dengan rekor planet terbanyak saat ini dimiliki 55 Cancri dengan 5 planet. Setiap sistem yang ditemukan punya keunikan. Sebut saja Epsilon Eridani yang memiliki 2 buah sabuk asteroid mirip dengan Sabuk Asteroid dan Sabuk Kuiper di Tata Surya. Kini 55 Cancri tidak lagi menjadi pemegang rekor planet terbanyak dalam sistem extrasolar. Mengapa demikian? Simak ceritanya.

Sistem Extrasolar Mirip Tata Surya


Ilustrasi sistem keplanetan HD 10180. Kredit :ESO/L. Calçada

Kali ini Christophe Lovis dan tim menemukan sebuah sistem keplanetan dengan jumlah planet terbanyak di antara sistem extrasolar yang sudah ada.

Penemuan 6 exoplanet disertai bukti keberadaan 1 exoplanet lainnya di dalam sistem membawa sistem extrasolar di bintang HD 10180 menjadi kandidat sistem extrasolar dengan exoplanet terbanyak. Kandidat yang belum dikonfirmasi sebagai planet ini, memiliki massa terendah yang pernah ditemukan dalam dunia exoplanet.

Tak hanya itu, ke-7 planet ini juga membawa manusia pada khazanah baru sebuah sistem yang hampir “serupa” dengan Tata Surya terutama dalam hal jumlah planet yang mengitari bintang induk. Hal menarik lainnya, ditemukan juga bukti kalau jarak planet dari bintangnya mengikuti pola umum yang juga terlihat di Tata Surya.

Apa artinya penemuan ini? Tak lain tak bukan, perjalanan pencarian “dunia lain” memasuki era baru dimana sistem keplanetan yang umum bukan hanya terdiri dari 1 atau 3 planet. Ini merupakan awal era sistem keplanetan yang kompleks dimana pergerakan di dalam sistemnya akan melibatkan interaksi gravitasi yang kompleks di antara planet-planet. Dan keseluruhan informasi inilah yang akan membawa manusia pada pemahaman akan perjalanan evolusi sistem untuk jangka waktu yang panjang. Atau lebih sederhana lagi, manusia bisa mempelajari perjalanan evolusi sebuah sistem keplanetan yang tak jauh berbeda dari Tata Surya.

Pengamatan dengan HARPS
Dengan menggunakan spektograf HARPS yang dipasang pada teleskop 3,6 meter milik ESO di La Silla, Chille, Christophe Lovis dan tim melakukan pengamatan pada bintang HD 10180 yang berada pada jarak 127 tahun cahaya di konstelasi Hydrus selama 6 tahun. HARPS sendiri merupakan instrumentasi pemburu exoplanet kelas wahid yang ada saat ini karena memiliki stabilitas pengukuran dan presisi yang sangat baik.


Area langit di sekitar HD 10180. kredit: ESO & Digitized Sky Survey 2. Acknowledgment: Davide De Marti

Setelah melakukan pengamatan, para astronom berhasil mendeteksi gerak maju mundur atau gerak bolak balik atau goyangan yang sangat kecil dari bintang sebagai akibat gaya tarik gravitasi yang kompleks dari 5 atau bahkan lebih banyak lagi planet. Lima sinyal yang paling kuat datang dari planet-planet seukuran Neptunus dengan massa antara 13 – 25 massa Bumi dan mengorbit bintang dengan periode 6 – 600 hari. Dalam sistem HD 10180, planet HD 10180 c,d,e,f,g berada pada jarak 0,06 dan 1,4 kali jarak Bumi – Matahari dari bintang induknya. Sementara planet terluar yakni HD 10180 h yang diperkirakan mirip Saturnus memiliki massa minimum 65 massa Bumi mengorbit dalam 2200 hari (6,02 tahun) pada jarak 3,4 SA.

Selain ke-6 planet yang dilihat, tim ini juga menemukan bukti keberadaan 1 planet lainnya. Planet yang berada paling dekat dengan bintang induk ini mengorbit pada jarak sekitar 3,3 juta km atau 2% jarak Bumi – Matahari (0,2225 SA). Satu tahun di planet ini akan berakhir dalam sekejap yakni 1,18 hari di Bumi atau dalam kisaran 28,32 jam. Obyek ini menyebabkan goyangan yang sangat lemah pada bintang, yakni hanya 3 km/jam, dan sangat sulit untuk diukur. Tapi jika memang obyek ini bisa dikonfirmasi sebagai planet, ia akan menjadi contoh lain bagi keberadaan planet batuan panas, mirip dengan Corot-7b.

Keunikan Sistem Extrasolar HD 10180
Sistem keplanetan yang baru ditemukan disekeliling HD 10180 ini memiliki beberapa keunikan. Yang pertama, ke-5 planetnya yang seukuran Neptunus berada dalam jarak yang sama dengan jarak orbit Mars. Artinya, sistem ini punya populasi yang lebih banyak dari tata Surya di area bagian dalamnya dan sistem HD 10180 memiliki planet yang lebih masif di area tersebut. Planet-planet dalam sistem extrasolar HD 10180 tidak memiliki planet gas raksasa serupa Jupiter, dan kesemua planetnya memiliki orbit yang hampir lingkaran.

Sebelum sistem HD 10180, sistem 55 Cancri diketahui memiliki 5 buah planet dengan 2 planet merupakan planet gas raksasa. Keberadaan HD 10180 yang hanya memiliki planet bermassa rendah memang tampaknya umum terjadi namun sayangnya proses pembentukan masih menjadi misteri.

Dari data yang didapat untuk sistem HD 10180 dan data sistem keplanetan lainnya, para astronom juga menemukan kesamaan dengan hukum Titus-Bode yang ada di Tata Surya. Jarak planet-planet dari bintang induk tampaknya mengikuti pola umum, dan menurut Michel Mayor salah satu anggota tim penemu sistem HD 10180 yang juga penemu exoplanet pertama pada bintang serupa Matahari, “ini akan menjadi tanda dari proses pembentukan sistem keplanetan”.

Hasil penting lainnya, tampaknya ada hubungan antara massa sistem keplanetan dengan massa konten kimiawi bintang induk. Semua sistem keplanetan yang sangat masif ditemukan mengelilingi bintang masif dan kaya elemen berat sementara 4 sistem keplanetan dengan massa yang kecil ditemukan pada bintang bermassa rendah dan miskin elemen berat. Elemen berat disini dimaksutkan untuk elemen selain Hidrogen dan Helium. Kondisi ini justru menjadi peneguhan bagi model teoretik yang ada.

Babak baru penemuan sistem multi planet dengan jumlah planet yang lebih banyak telah dimulai. Dan perjalanan yang telah ditapaki belasan tahun lalu itu masih akan terus berlanjut diisi dengan cerita baru dari berbagai sistem keplanetan yang ada di Bima Sakti dan alam semesta.

Sumber : ESO
from langitselatan.com

Piringan Debu di Sekeliling Bintang Ganda Dekat

Cerita dari ruang angkasa memang tak pernah habis. Kisah demi kisah diungkap untuk menambah khazanah pengetahuan bagi manusia. Kali ini cerita itu datang dari sistem bintang ganda dekat. Sistem ini tampaknya tidak akan pernah bisa menjadi daerah terbaik bagi kehidupan untuk tumbuh. Bagaimana bisa?


Ilustrasi tabrakan planet di sistem bintang ganda dekat. Kredit : NASA

Data yang dihasilkan Teleskop Spitzer milik NASA, menunjukkan sejumlah besar debu di sekeliling 3 pasang sistem bintang ganda dekat. Keberadaan debu tersebut memang mengejutkan namun diperkirakan ia merupakan hasil akhir dari tabrakan benda-benda planetari.

Bintang Ganda Dekat yang diamati
Dalam penelitian ini, pengamatan dilakukan pada RS Canum Venaticorums, atau RS CVns, sistem bintang ganda yang sangat dekat dan hanya terpisah oleh jarak 3,2 juta km. Jarak ini hanya 2% jarak Matahari-Bumi (150 juta km). Jadi bayangkan betada dekatnya kedua bintang tersebut. Pasangan bintang ini juga saling mengelilingi satu sama lainnya dengan hanya satu wajah yang terkunci untuk saling berhadapan satu sama lainnya.

Sistem bintang ganda ini juga memiliki kemiripan dalam hal ukuran dengan Matahari, namun keduanya masih sangat muda hanya sekitar 1 milyar atau beberapa milyar tahun. Mirip dengan usia Matahari saat kehidupan pertama kali berevolusi di Bumi. Yang menarik kedua bintang tersebut berputar jauh lebih cepat dari Matahari dan akibatnya keduanya memiliki medan magnetik yang sangat kuat dan terdapat bintik gelap raksasa. Aktivitas magnetik tersebut mengendalikan angin bintang yang kuat – versi badai dari angin matahari – dan akan memperlambat bintang serta menarik kedua bintang untuk semakin mendekat seiring waktu. Dan inilah saat dimana kekacauan antar planet akan terjadi.

Sistem Keplanetan di Bintang Ganda Dekat RS CVns
Kalau memang kekacauan dalam sistem keplanetan di bintang ganda dekat tersebut akan terjadi. Apakah benar di sana ada planet? Sampai saat ini memang belum ditemukan keberadaan planet di sistem RS CVns, namun secara teori keberadaan planet dalam sistem bintang tersebut memang memungkinkan. Bahkan keberadaan planet di zona laik huni bintang pun bisa terjadi. Dan jika ada kehidupan di planet tersebut, maka yang muncul adalah malapetaka bagi kehidupan itu sendiri.

Dari data yang dihasilkan observatorium inframerah Spitzer, jika ada planet di sistem bintang tersebut, maka pastinya si planet sangat tidak beruntung karena akan terjadi tabrakan secara terus menerus. “Inilah fiksi ilmiah yang muncul dalam kehidupan nyata”, kata Jeremy Drake dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, Cambridge, Mass yang memimpin penelitian tersebut.

Saat kedua bintang mendekat, gaya gravitasi dan pengaruhnya pun berubah. Akibatnya, terjadi gangguan terhadap benda-benda planetari yang mengitari kedua bintang. Komet dan planet yang mungkin ada di dalam sistem tersebut akan saling mendorong dan menabrak satu sama lainnya, bahkan kadang dalam sebuah tabrakan yang sangat dasyat.

Hal yang sama juga terjadi pada planet yang secara teoretik bisa ada di zona laik huni bintang ganda, sebuah area yang temperaturnya bisa mempertahankan air dalam bentuk cair ada di planet. Meskipun belum ada planet laik huni yang ditemukan disekeliling bintang selain Matahari, namun sistem bintang ganda dekat sudah diketahui bisa memiliki planet, yakni sistem HW Vir dengan 2 planet gas raksasa.

Tak pelak kondisi di sistem bintang ganda dekat RS CVns bisa memberi gambaran tahap akhir kehidupan sistem keplanetan jika ada planet disana.

Piringan Debu yang dilihat Spitzer


Ilustrasi pasangan bintang ganda dekat yang dikelilingi piringan debu. kredit : NASA

Dari data yang diambil Spitzer, tampaknya si teleskop landas angkasa ini berhasil melihat piringan debu panas yang bersinar dalam inframerah, dengan temperatur lava cair disekitar 3 sistem bintang ganda dekat. Salah satu sistem ganda diketahui memiliki ekses yang mencurigakan pada cahaya inframerah di tahun 1983 oleh Infrared Astronomical System. Sebagai tambahan, peneliti yang menggunakan Spitzer juga menemukan piringan puing-puing di sekitar bintang lainnya yang ternyata juga merupakan sistem bintang ganda dekat.

Debu yang dilihat Spitzer, secara normal seharusnya sudah terhambur dan terhembus keluar dari bintang yang sudah memasuki usia “dewasa”. Karena itu, tentunya ada sesuatu yang lain – dalam hal ini tabrakan planetari yang kemudian membentuk debu baru. Dan karena piringan debu ini ditemukan juga pada 4 sistem bintang ganda tua, para peneliti yakin kalau pengamatan ini tidaklah kebetulan. Ada sebuah kekacauan yang terjadi pada sistem tersebut.

Seandainya saja teori sistem keplanetan pada bintang ganda itu terjadi, dan memang ada planet laik huni yang terbentuk disana, maka ketika para penghuninya menengadah ke langit mereka aka menemukan 2 matahari raksasa, seperti yang ada di planet Tatooine di Star Wars.

Sumber : NASA
from langitselatan.com

Planet X Bukan Planet Nibiru

Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?

Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.

Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.

Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.

Kuiper Belt Objects (KBOs)


Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik. Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.

Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.


Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan.
Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor.  Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.


“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” – Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.

Planet X Tidaklah Menakutkan
Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul The Twelfth Planet atau Planet Kedua belas ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.

Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?

Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.

Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.

Black hole blows big bubble


New findings show that some stellar black holes can release at least as much energy, and perhaps more, in the form of collimated jets of fast-moving particles as they can in the form of radiation.


Combining observations made with the European Southern Observatory's (ESO) Very Large Telescope (VLT) and NASA's Chandra X-ray telescope, astronomers have uncovered the most powerful pair of jets seen from a stellar black hole. This object, also known as a microquasar, blows a huge bubble of hot gas that is 1,000 light-years across, twice as large and more powerful than other known microquasars.

"We have been astonished by how much energy is injected into the gas by the black hole," said Manfred Pakull from the University of Strasbourg, France. "This black hole is just a few solar masses, but it is a real miniature version of the most powerful quasars and radio galaxies, which contain black holes with masses of a few million times that of the Sun."

Black holes are known to release a prodigious amount of energy when they swallow matter. It was thought that most of the energy came out in the form of radiation, predominantly X-rays. However, the new findings show that some black holes can release at least as much energy, and perhaps more, in the form of collimated jets of fast moving particles. The fast jets slam into the surrounding interstellar gas, heating it and triggering an expansion. The inflating bubble contains a mixture of hot gas and ultra-fast particles at different temperatures. Observations in several energy bands (optical, radio, X-rays) help astronomers calculate the total rate at which the black hole is heating its surroundings.

The astronomers could observe the spots where the jets smash into the interstellar gas located around the black hole and reveal that the bubble of hot gas is inflating at a speed of almost 621,000 mph(1 million km/h).

"The length of the jets in NGC 7793 is amazing compared to the size of the black hole from which they are launched," said Robert Soria from University College London, United Kingdom. "If the black hole were shrunk to the size of a soccer ball, each jet would extend from Earth to beyond the orbit of Pluto."

This research will help astronomers understand the similarity between small black holes formed from exploded stars and the supermassive black holes at the centers of galaxies. Very powerful jets have been seen from supermassive black holes, but they are thought to be less frequent in the smaller microquasar variety. The new discovery suggests that many of them may simply have gone unnoticed so far.

The gas-blowing black hole is located 12 million light-years away, in the outskirts of the spiral galaxy NGC 7793. From the size and expansion velocity of the bubble, the astronomers have found that the jet activity must have been ongoing for at least 200,000 years.

Hari Koreksi Arah Kiblat

Di setiap tahunnya, Matahari akan berada tepat di atas Kakbah sebanyak dua kali. Yaitu pada tanggal 28 Mei pada pukul 12.18 waktu Arab Saudi atau 16.18 WIB (17.18 WITA) dan 16 Juli pada pukul 12.27 waktu Arab Saudi atau 16.27 WIB (17.27 WITA). Peristiwa ini bisa dimanfaatkan oleh siapapun yang berkepentingan (misalnya pengurus masjid) untuk melakukan koreksi arah kiblat. Bagaimana caranya?


Skema koreksi arah kiblat


Dirikanlah sebuah tongkat secara tegak lurus di area yang terkena sinar Matahari. Usahakan agar area yang digunakan dapat diberi tanda (dengan cat/spidol) agar arah kiblat dapat dituliskan nantinya. Atau gunakan kertas untuk melukiskan arah kiblatnya (lihat gambar di atas).

Lalu pada hari dan jam yang ditentukan, bayangan tongkat akan menunjukkan arah kiblat. Tandailah bayangan tongkat itu. Agar bisa digunakan di tempat lain, tandai juga arah mata angin di kertas itu dengan menggunakan kompas. Kemudian bandingkan antara arah mata angin dengan arah kiblatnya.

Kertas tersebut dapat kita gunakan untuk mengoreksi arah kiblat di masjid lain dengan melakukan langkah yang sebaliknya. Yaitu tentukan arah mata angin dengan kompas, lalu cocokkan dengan arah mata angin di kertas, dan kita pun bisa menentukan arah kiblat yang tepat di tempat tersebut.


Tempat-tempat yang tidak bisa mengamati Matahari pada saat itu (karena Matahari sudah tenggelam, misalnya di zona WIT) tidak akan bisa menggunakan cara ini di tanggal tersebut. Namun tidak perlu khawatir karena ada waktu lain yang bisa dimanfaatkan, yaitu tanggal 28 November pukul 00.09 waktu Arab Saudi atau 06.09 WIT dan 12 (atau 13) Januari pukul 00.29 waktu Arab Saudi atau 06.29 WIT. Di kedua waktu ini, Matahari terletak di titik antipode, yaitu titik yang berlawanan dengan koordinat Kakbah.

Bagaimana jika di waktu yang ditentukan awan menutupi Matahari? Sekali lagi tidak perlu khawatir karena kita masih bisa menggunakan metode ini dalam batas toleransi 2 hari sebelum dan sesudah hari yang ditentukan serta 5 menit sebelum dan sesudah jam yang ditentukan.

Planck Menyingkap Alam Semesta


Bagaimana alam semesta memulai hidupnya setelah dentuman besar? Mungkin itu pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak. Berbagai teori memang sudah dikemukakan namun apa yang sesungguhnya terjadi dan apa bukti observasinya, inilah yang terus dicari.


Era CMB membawa manusia untuk melihat ke masa lalu dan mendapatkan gambaran akan evolusi alam semesta. Nah, kali ini berita dari misi Planck milik ESA memberikan kabar gembira lainnya. Planck dalam misinya melakukan pencitraan seluruh langit. Hasilnya, bukan sekedar memberi pandangan baru tentang pembentukan bintang dan galaksi namun sekaligus memberikan informasi bagaimana alam semesta memulai kehidupannya setelah Dentuman Besar.

Juga bukan sebuah jawaban karena apa yang didapat justru merupakan pintu yang dibukakan bagi para ilmuwan untuk melongok ke dalam dan mulai menemukan apa yang dicari. Pintu yang akan membawa para ilmuwan pada pemahaman baru bagaimana alam semesta jadi seperti saat ini dan cara kerjanya. Inilah saatnya para ilmuwan memulai masa panen.


Alam semesta dalam gelombang mikro yangd ilihat Planck. kredit : Planck/ESA


Citra Yang Dihasilkan Planck
Citra yang diambil Planck jelas memiliki kualitas tinggi namun bukan itu saja yang jadi poin penting. Citra yang diambil berhasil memperlihatkan daerah terdekat Bima Sakti sampai ke area terjauh ruang waktu. Yang pasti citra baru ini merupakan harta tak ternilai dari data baru para astronom.

Piringan utama Bima Sakti membentang di tengah citra yang diambil. Yang mencolok dari citra ini adalah keberadaan pita debu dingin yang membentang ke atas dan bawah Bima Sakti. Jaringan galaksi dimana bintang baru dilahirkan dan Planck berhasil menemukan beberapa lokasi tempat bintang individu sedang berada di batas kelahirannya atau sedang mengawali siklus perkembangannya.

Yang tidak kalah spektakuler namun bisa jadi lebih menarik adalah latar belang-belang di bagian atas dan bawah. Area ini merupakan ‘cosmic microwave background radiation’ (CMBR), cahaya tertua di alam semesta, sisa-sisa bola api asal muasal munculnya alam semesta 13,7 milyar tahun lalu.

Dalam citra yang diambil tersebut, Bima Sakti menunjukkan pada kita gambaran alam semesta lokal, sementara gelombang mikro justru menunjukkan gambaran alam semesta pada masa ia terbentuk sebelum bintang dan galaksi itu ada.

Melacak Masa Lalu Alam Semesta
Citra ini bisa dikatakan sebagai misi utama Planck yakni untuk memecahkan apa yang terjadi pada alam semesta mula-mula dari citra coreng-coreng yang ada di latar belakang.

Pola gelombang mikro ini merupakan cetak biru kosmik dari pembentukan gugus dan galaksi gugus super. Warna yang berbeda merupakan perbedaan dalam hitungan menit untuk temperatur dan kerapatan materi di langit. Entah bagaimana penyimpangan kecil ini justru berkembang enjadi daerah yang lebih rapat yang kemudian menjadi galaksi di masa kini.

Sebenarnya CMBR menutupi seluruh bidang langit, namun sayangnya pada citra ini ia tersembunyi dibalik emisi Bima Sakti. Untuk telaah lanjut, emisi Bima Sakti ini harus terlebih dahulu “dihapus” secara dijital sehingga gelombang mikro latar belakang (CMBR) bisa dilihat secara keseluruhan.

Pada saat pekerjaan ini selesai, Planck akan menunjukkan citra yang lebih presisi dari gelombang mikro latar belakang yang ia dapatkan. Nah pertanyaan terbesar yang muncul, akankah data yang diperoleh mengungkap tanda kosmik dari periode mula-mula yang dikenal sebagai inflasi. Zaman inflasi ini terjadi sesaat setelah terjadinya Dentuma Besar dan mengakibatkan terjadinya pengembangan alam semesta ke dalam ukuran yang besar dalam waktu yang sangat singkat, bahkan lebih singkat dari 1 kedipan mata. Planck akan terus melakukan survei dan pemetaan alam semesta sampai akhir masa tugasnya di 2012.

Menggali Catatan Sejarah Bima Sakti


Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Universitas Durham mengungkapkan asal muasal bintang purba di alam semesta. Menurut hasil penelitian mereka tersebut, bintang-bintang purba tersebut berasal dari sisa-sisa galaksi kecil yang terkoyak saat terjadi tabrakan galaksi 5 milyar tahun lalu.



Untuk mengetahui kejadian tersebut, para ilmuwan dari Durham’s Institute for Computational Cosmology beserta para kolaborator dari Max Planck Institute for Astrophysics, Jerman, dan Groningen University, Belanda melakukan simulasi besar-besaran yang bertujuan untuk menciptakan kembali awal mula terbentuknya galaksi Bima Sakti.

Simulasi yang dilakukan ini ternyata mengungkap keberadaan bintang-bintang purba ditemukan di puing halo bintang sekeliling Bima Sakti, ternyata telah terkoyak dari galaksi yang lebih kecil akibat gaya gravitasi yang terbentuk saat terjadinya tabrakan galaksi.

Menurut prediksi kosmolog, alam semesta dini terdiri dari galaksi-galaksi kecil yang memiliki masa hidup pendek dan memimpin terjadinya kekerasan. Galaksi-galaksi ini kemudian bertabrakan satu sama lainnya meninggalkan puing-puing yang akhirnya menetap dan tampak seperti galaksi dalam hal ini Bima Sakti.

Hasil penelitian ini juga sekaligus menunjukkan kalau bintang-bintang purba di Bima Sakti sesungguhnya berasal dari galaksi lain dan bukannya bintang-bintang awal yang lahir di Bima Sakti saat ia mulai terbentuk 10 milyar tahun lalu.

Arkeologi Galaktik
Penelitian ini tak pelak membuat Andrew Cooper dari Universitas Durham beserta rekan-rekannya menjadi ahli arkeologi galaktik yang mencari situs dimana terdapat bintang purba untuk diteliti sehingga bisa mengungkap sejarah terbentuknya galaksi Bima Sakti. Dan yang pasti untuk mendapatkan situs bintang purba pun tak mudah, karena mereka tersebar di sekeliling galaksi, bukan terkumpul hanya di suatu tempat saja.

Simulasi yang dijalankan menunjukkan betapa berbedanya relik yang ada di Bima Sakti saat ini, seperti halnya bintang-bintang purba yang memiliki kaitan dengan sebuah kejadian di masa lalu. Nah, seperti halnya lapisan batuan purba yang mengungkap sejarah Bumi, halo bintang juga mempertahankan catatan berbagai kejadian dramatik pada satu periode di masa lalu Bima Sakti yang berakhir jauh sebelum Matahari lahir.

Simulasi yang dilakukan ini dimulai sesaat setelah Dentuman Besar, sekitar 13 milyar tahun lalu. Setelah itu digunakan hukum fisika yang berlaku umum untuk mensimulasi evolusi materi gelap dan bintang-bintang. Simulasi ini dilakukan dengan kondisi yang realistik serta mampu memperbesar dan memperlihatkan detil struktur halo bintang, termasuk di dalamnya “aliran” bintang. Aliran bintang disini merupakan bintang yang terlontar atau tertolak dari galaksi-galaksi kecil sebagai akibat gaya gravitasi materi gelap.

Hasil simulasi memperlihatkan, satu bintang dalam seratus bintang di Bima Sakti berasal dari halo bintang, yang lebih besar dari piringan spiral galaksi. Dan bintang-bintang tersebut usianya sudah hampir setua alam semesta.

Tak pelak, simulasi ini bisa dikatakan merupakan cetak biru dari pembentukan galaksi, yang memperlihatkan petunjuk penting dari sejarah kelam dan dramatik yang pernah ada di Bima Sakti.

Penemuan Planet Layak Huni Pertama Selain Bumi


Si kerdil ternyata membawa kehidupan juga loh!

Untuk pertama kalinya, astronom akhirnya menemukan planet yang mirip Bumi di luar Tata Surya, sebuah planet ekstrasolar dengan radius 50% lebih besar dari bumi dan mampu memiliki air dalam bentuk cair. Penemuan ini memberi sebuah harapan baru dan sebuah langkah maju dalam usaha pencarian planet-planet yang bisa digolongkan sebagai planet layak huni. Dengan menggunakan teleskop ESO 3,6 m, tim pemburu planet dari Swiss, Perancis dan Portugal akhirnya menemukan super-Bumi yang massanya 5 kali massa Bumi dan mengorbit bintang katai merah, yang sebelumnya diketahui telah memiliki planet bermassa Neptunus. Para astronom juga menemukan bukti kuat yang menunjukkan indikasi keberadaan planet ketiga dengan massa 8 kali massa Bumi.

Planet Gliese 581 c


Planet Gliese 581 c planet yang diduga mirip Bumi. kredit : ESO

Exoplanet, itulah cara para astronom dalam menyebut planet yang berada disekitar bintang selain Matahari. Nah, exoplanet yang baru ditemukan ini merupakan exoplanet terkecil yang pernah ditemukan hingga saat ini dan ia bisa mengitari bintangnya hanya dalam 13 hari. Dan jaraknya juga 14 kali lebih dekat dari jarak Bumi -Matahari. Bintang induknya sendiri ternyata bukanlah bintang sekelas Matahari melainkan bintang katai merah yang lebih kecil, kebih dingin dan lebih redup dibanding Matahari. Itulah bintang Gliese 581, bintang yang menaungi si exoplanet mirip Bumi tersebut.

Si exoplanet yang mirip Bumi ini terletak di dalam area layak huni sang bintang (berada dalam habitable zone bintang – akan dibahas dalam artikel yang lain), daerah disekitar bintang dimana air yang berada pada area itu bisa berada dalam bentuk cairan. Exoplanet tersebut dinamakan Gliese 581 c yang artinya planet kedua yang bermukim di bintang Gliese 581. Planet pertama dalam extrasolar planet dinamakan dengan nama bintang dan diikuti indikasi b, bintang kedua indikasinya c dst.

Menurut Stephane Udry dari Geneva Observatory, mereka memperkirakan temperatur rata-rata super-Bumi ini antara 0 – 40 derajat Celcius, dan kondisi airnya masih dalam bentuk cairan. Selain itu radiusnya juga diperkirakan hanya 1,5 kali radius Bumi, dan dari pemodelannya bisa diperkirakan kalau planet ini merupakan planet batuan seperti Bumi atau bisa jadi Gliese 581 c adalah planet lautan.

Ditambahkan oleh Xavier Delfosse, salah satu anggota tim dari Perancis, kalau air dalam bentuk cair merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan sepanjang yang kita ketahui. Dengan memiliki temperatur dan jarak yang relatif dekat seperti yang dimiliki Gliese 581 c, planet ini kemungkinan akan menjadi target penting dalam misi ruang angkasa di masa depan khususnya dalam hal pencarian kehidupan extra-terrestrial. Dan di dalam peta harta karun alam semesta, Gliese 581 c akan ditandai dengan X.

- perlu diingat perbandingan kehidupan itu sendiri akan selalu mengacu pada kehidupan di Bumi.-

Gilese 581
Bintang induk Gliese 581 merupakan satu diantara 100 bintang yang berada dekat dengan kita. Massa dan radiusnya hanya sepertiga massa Matahari. Planet katai merah seperti ini secara intrinsik memiliki kecerlangan setidaknya 50 kali lebih lemah dari Matahari. Bintang katai merah juga termasuk bintang yang umum ditemukan di dalam galaksi kita (Bimasakti) : diantara 100 bintang dekat dengan Matahari, 80 diantaranya berada di kelas ini.

Gl 581, atau Gliese 581, merupakan bintang ke 581 dalam urutan Katalog Gliese yang merupakan susunan bintang yang berada dalam jarak 25 parsecs (81,5 tahun cahaya) dari bintang. Katalog tersebut dibuat oleh Gliese dan diterbitkan pada tahun 1969 dan diperbaharui tahun 1991 oleh Gliese dan Jahreiss. Gliese 581 sendiri jaraknya 6,26 parsecs (22,66 tahun cahaya) berada di konstelasi Libra dan usianya 4,3 milyar tahun.

Menurut Xavier Bonfils dari Lisbon University, Bintang katai merah merupakan target ideal dalam pencarian planet bermassa kecil yang memiliki air dalam bentuk cair. Hal ini disebabkan karena bintang katai seperti ini memancarkan sedikit cahaya sehingga daerah layak huninya (habitable zone) berada lebih dekat dengan bintang dibanding planet-planet disekitar Matahari.

Planet-planet yang berada di daerah tersebut akan lebih mudah dideteksi dengan menggunakan metode kecepatan radial, metode yang paling sukses dalam pencarian dan deteksi exoplanet.

Planet Lainnya di Gliese 581
Dua tahun lalu, tim astronom yang sama juga menemukan planet yang mengelilingi Gliese 581. Planet yang dikenal dengan nama Gliese 581 b memiliki massa 15 massa Bumi, dan mirip dengan Neptunus. Ia mengorbit Gliese 581 hanya menghabiskan waktu 5,4 hari. Pada saat itu astronom juga sudah melihat adanya indikasi planet lain disekitar tempat itu. Dan setelah pencarian yang lebih lanjut, ditemukan planet super-Bumi, tapi bukan hanya itu, ada juga indikasi yang sangat jelas menunjukkan kalau ditempat itu ada planet ketiga. Planet ketiga tersebut memiliki massa 8 kali massa Bumi dan menyelesaikan putaran orbitnya dalam waktu 84 hari.

Sistem keplanetan di Gliese 581 sedikitnya telah memiliki 3 buah planet dengan massa kurang lebih 15 massa Bumi, dan ini bisa dikatakan merupakan sistem yang luar biasa. Selama ini pencarian exoplanet paling banyak dilakukan pada bintang yang sekelas Matahari.

Metode Pengamatan
Penemuan Gliese 581 c ini dilakukan dengan menggunakan metode kecepatan radial. Metode kecepatan radial mendeteksi perubahan kecepatan bintang induk yang diakibatkan oleh gaya gravitasi dari exoplanet (yang tak terlihat) saat ia mengorbit bintangnya. Evaluasi pengukuran kecepatan akan memberi deduksi tentang orbit planet, biasanya bisa diketahui periode dan jarak dari bintang, serta massa minimumnya. Secara statistik, massa minimum ini mendekati massa yang sebenarnya.

Penemuan ini dilakukan menggunakan spektograf HARPS (High Accuracy RAdial Velocity for the Planetary Searcher), teleskop ESO 3,6 m di La Silla, Chille. HARPS bisa mengukur kecepatan dengan presisi lebih baik dari 1 meter per detik (3,6 km/jam). Dalam pendeteksian ini, variasi kecepatan yang terdeteksi antara 2 dan 3 meter per detik atau setara dengan 9 km/jam. Dari 13 planet yang massanya dibawah 20 massa Bumi, 11 diantaranya ditemukan dengan HARPS.

Selain Gliese 581 c ada dua sistem lain yang memiliki massa kecil juga, yakni planet es yang mengitari OGLE-2005-BLG-390L, yang ditemukan dengan jaringan teleskop microlensing. Massa planet tersebut 5,5 massa Bumi. Namun planet tersebut orbitnya lebih jauh dari bintang induknya yang kecil dibanding jarak Gliese 581 c dengan bintangnya. Selain itu planet yang mengitari OGLE-2005-BLG-390L juga lebih dingin.

Planet lainnya memiliki massa minimum 5,89 massa Bumi (dengan kemungkinan massa benarnya 7,53 massa Bumi) dan periode orbitnya kurang dari 2 hari, hal ini menyebabkan si planet terlalu panas untuk masih memiliki air di permukaannya.

Penemuan Gliese 581 c memberi satu titik cerah dalam masalah pencarian planet-planet yg mirip Bumi didalam zona layak huni bintang. Tapi untuk tiba pada apakah ada kehidupan lain disana atau mungkinkah kita hidup disana masih ada banyak hal yang perlu dijawab.

sumber Press Release ESO