Semoga dengan teradanya kegiatan ini jd berkah :)
pahlawan itu ayahku
Author :: Maulana Syaiful Haq - Sabtu, 10 Agustus 2013
Hanya ku tau kau ada, tak ayal keterlihatanmu ada.
Tak pernah kulihat kau di rumah, namun kau perhatikan ku dalam tidurku, mengecupku saat ku lelap, menitip senyum saat gelap malam tengah pekat.
Tak banyak kasihmu kusentuh, melainkan kau terus menyentuh hidupku dengan kasihmu.
Siapa kau?
Kering keringat membuatmu gatal.
Asap dapur melecut semangatmu.
Dan sekolahku menjadi api kerjamu.
Dimana protes dan makian terus saja menghujam.
Senyum itu laiknya palsu seakan hanya untuk menghias kerut jelek yg kian bertambah berkawan waktu.
Siapa kau?
Surga dunia...ah, tak kau cium sedikitpun.
Hanya wajah diamnya seorang wanita dan 3 buah hati saat tidur yg terus melecut rindumu, membuat lupa lautan, mabuk daratan, setan pun enggan menggoda dan malah berpelu haru.
Hari kau penuh, senggang kau rebah..
Tiada hura tersemat dalam kamus, dan foya dalam benak.
Meski ajakan rekan kian menyalak.
Siapa kau??
Satu lingkaran sudah saja cukup meradang migrain, kau genggam 3 lingkaran pun bagimu kurang.
Keluh? Siapa sangka siapa tanya. Anggukan pasti dalam kemakluman.
Tapi pantang.... pantang di depan semua yg mengedepankan ia, menjadikan tombak runcing ia.
Lagi? Siapa??
kusangka ku telah tamat, saat baligh tersemat pada dahi.
ya, itu sekian tahun lalu.... kini hanya kasih sebagai landasan.
karna wajib telah gugur, dan agama telah mengantar.
apa jawabmu? inilah aku, untukmu anakku.
dagu pun terjatuh, lamun ku tersadar.
inilah dia..
benarkah? siapa?
mati mendahuluiku...
senyum atas suksesku..
berfoto dengan cucumu, anakku..
itu kan inginmu??
sampai picisanku kau tolak dengan kementahan.
seakan sok peduli dengan hidupku, tak ingin rasa susahku atasmu.
ku tahu kau siapa..
kurang ajar kau.
kau rebut posisi lelaki terhebat diatas bumi, nomor 2 dari baginda Muhammad.
tak sekuat hercules kau memang
tak sepintar edison pun
tak seberani umar jelas.
tp senyum itu pasti nomer satu di dunia.
Dan kau bukan siapa-siapa lg
Tak pernah kulihat kau di rumah, namun kau perhatikan ku dalam tidurku, mengecupku saat ku lelap, menitip senyum saat gelap malam tengah pekat.
Tak banyak kasihmu kusentuh, melainkan kau terus menyentuh hidupku dengan kasihmu.
Siapa kau?
Kering keringat membuatmu gatal.
Asap dapur melecut semangatmu.
Dan sekolahku menjadi api kerjamu.
Dimana protes dan makian terus saja menghujam.
Senyum itu laiknya palsu seakan hanya untuk menghias kerut jelek yg kian bertambah berkawan waktu.
Siapa kau?
Surga dunia...ah, tak kau cium sedikitpun.
Hanya wajah diamnya seorang wanita dan 3 buah hati saat tidur yg terus melecut rindumu, membuat lupa lautan, mabuk daratan, setan pun enggan menggoda dan malah berpelu haru.
Hari kau penuh, senggang kau rebah..
Tiada hura tersemat dalam kamus, dan foya dalam benak.
Meski ajakan rekan kian menyalak.
Siapa kau??
Satu lingkaran sudah saja cukup meradang migrain, kau genggam 3 lingkaran pun bagimu kurang.
Keluh? Siapa sangka siapa tanya. Anggukan pasti dalam kemakluman.
Tapi pantang.... pantang di depan semua yg mengedepankan ia, menjadikan tombak runcing ia.
Lagi? Siapa??
kusangka ku telah tamat, saat baligh tersemat pada dahi.
ya, itu sekian tahun lalu.... kini hanya kasih sebagai landasan.
karna wajib telah gugur, dan agama telah mengantar.
apa jawabmu? inilah aku, untukmu anakku.
dagu pun terjatuh, lamun ku tersadar.
inilah dia..
benarkah? siapa?
mati mendahuluiku...
senyum atas suksesku..
berfoto dengan cucumu, anakku..
itu kan inginmu??
sampai picisanku kau tolak dengan kementahan.
seakan sok peduli dengan hidupku, tak ingin rasa susahku atasmu.
ku tahu kau siapa..
kurang ajar kau.
kau rebut posisi lelaki terhebat diatas bumi, nomor 2 dari baginda Muhammad.
tak sekuat hercules kau memang
tak sepintar edison pun
tak seberani umar jelas.
tp senyum itu pasti nomer satu di dunia.
Dan kau bukan siapa-siapa lg
kalian-ku
Author :: Maulana Syaiful Haq - Selasa, 06 Agustus 2013
Kulihat banyak kekosongan dalam mata kalian.
Meski senyum dan keringat mengalir tanpa takut ia menguap.
Hingga membuat suatu khawatirku, berjelagaku.
Ya, kosong..
Akhir waktu jawaban ku tak lekas tampak.
Dan takut pun mulai menyeruak gelap, bersatu dengan gelam.
Hingga stargezer tak terlihat mampu bekelip lagi.
Takut, kosong..
Pada petuah suci ku ber'asa, harapan hijau sehijau rumput segar.
Alih berjalan hingga hilang, warna kian gelap dan buram si pencerah.
Halusinasi indah lan penuh makna bukan lagi kejora, tapi aurora yg datang dan trus hilang.
Kembali sedih, kosong..
Kemana harus bertemu, siapa harus berangkat, kapan harus bertuju.
Pelik jawaban waktu memaksa solusi, semua juga paham!
Ingin saja ku buka lorong waktu terlarang jika semua berjawab idem.
Dan kutemui semua pecahan dari yang belum terpecah.
Memang menakutkan, kosong..
Lantaskah kau diam kapten? Mana suaramu jendral??
Lihatku bergetar, menyeringaikah engkau??
Bahkan paru-paru sebelahku rusak mengancamku bertahan dalam payah.
Bukankah dari dulu kau sudah kesakitan paru-paru?
Mengapa tak ku buang saja dan cari pendonor buta.
Tidak tahulah, semua memang sudah sesuai dengan jalannya.
Kosong?
Putus asa ku menarik kalian, dari kekosongan, dari gelap yg menyita akal dan menawan api diri.
Petuah palsu ku teringat, tiada salah kuberjudi.
Walau semua juga tahu, sang leluhur hanyalah imajiner tinggi dari pikiran yg kotor.
Tak ada salah, tak ada salah..
Karena ku mencintai kalian melebihi kaki yang menghantar keliling dunia.
Melebihi mata penghubung alam mimpi, halusinasi, dan fana.
Yg kubenci adalah kekosongan kalian.
Biarkan ia terseret lorong waktu, atau kian hebat memakanku..
Meski senyum dan keringat mengalir tanpa takut ia menguap.
Hingga membuat suatu khawatirku, berjelagaku.
Ya, kosong..
Akhir waktu jawaban ku tak lekas tampak.
Dan takut pun mulai menyeruak gelap, bersatu dengan gelam.
Hingga stargezer tak terlihat mampu bekelip lagi.
Takut, kosong..
Pada petuah suci ku ber'asa, harapan hijau sehijau rumput segar.
Alih berjalan hingga hilang, warna kian gelap dan buram si pencerah.
Halusinasi indah lan penuh makna bukan lagi kejora, tapi aurora yg datang dan trus hilang.
Kembali sedih, kosong..
Kemana harus bertemu, siapa harus berangkat, kapan harus bertuju.
Pelik jawaban waktu memaksa solusi, semua juga paham!
Ingin saja ku buka lorong waktu terlarang jika semua berjawab idem.
Dan kutemui semua pecahan dari yang belum terpecah.
Memang menakutkan, kosong..
Lantaskah kau diam kapten? Mana suaramu jendral??
Lihatku bergetar, menyeringaikah engkau??
Bahkan paru-paru sebelahku rusak mengancamku bertahan dalam payah.
Bukankah dari dulu kau sudah kesakitan paru-paru?
Mengapa tak ku buang saja dan cari pendonor buta.
Tidak tahulah, semua memang sudah sesuai dengan jalannya.
Kosong?
Putus asa ku menarik kalian, dari kekosongan, dari gelap yg menyita akal dan menawan api diri.
Petuah palsu ku teringat, tiada salah kuberjudi.
Walau semua juga tahu, sang leluhur hanyalah imajiner tinggi dari pikiran yg kotor.
Tak ada salah, tak ada salah..
Karena ku mencintai kalian melebihi kaki yang menghantar keliling dunia.
Melebihi mata penghubung alam mimpi, halusinasi, dan fana.
Yg kubenci adalah kekosongan kalian.
Biarkan ia terseret lorong waktu, atau kian hebat memakanku..
Langganan:
Postingan (Atom)